Sahabat
Ummi, meningkatkan pendapatan adalah hal yang tidak mudah. Namun, lebih
tidak mudah lagi menekan pengeluaran. Sebagian besar dari kita adalah
manusia yang konsumtif. Di samping itu, manusia menyukai sesuatu yang
mudah dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Misalnya saja: makan tinggal
makan, bersih-bersih rumah memakai pembantu padahal sebenarnya kita
masih bisa melakukannya, bepergian menggunakan taksi padahal naik bis
lebih murah dan hemat, dan lain sebagainya. Kita mungkin sering membaca,
mendengar, atau melihat akibat perilaku konsumtif. Bila kita masih
single, perilaku konsumtif akan merugikan masa depan kita. Adapun bila
sudah berkeluarga, perilaku konsumtif akan merugikan keluarga kita.
Sebuah cerita menggelitik di mana
ada seorang wali murid yang tidak perhitungan untuk membeli tas seharga
satu juta, sedangkan untuk membaya SPP anaknya sejumlah Rp 300.000,00
saja harus berpikir sejuta kali. Pernahkah kita melihat hal menggelitik
seperti itu? Atau mungkin kita sendiri? Makan dengan budget Rp
500.000,00 bisa kita lakukan, namun membayar utang sejumlah Rp
100.000,00 hingga berbulan-bulan kita lupakan.
Agar kita terhindar dari pembelanjaan yang sia-sia, berikut ini hal-hal yang bisa kita coba terapkan, yaitu:
1.Tentukan pos wajib dan tidak wajib
Pos wajib adalah pos yang bila tidak kita penuhi akan berpengaruh pada kehidupan kita. Adapun pos tidak wajib tidak demikian.
2.Kebutuhan lebih penting daripada keinginan
Hp Android atau netbook? Mana yang
lebih penting bagi kita bila profesi kita sehari-hari adalah penulis
atau editor? Sementara HP lama kita masih dalam kondisi baik. Keinginan
memang sesuatu yang menyilaukan, seolah-olah kita akan mati bila tidak
terpenuhi. Berbeda dengan kebutuhan yang tidak terlihat semenarik
keinginan. Namun, bila kita tidak memenuhinya kita akan kesulitan.
Pada contoh di atas, manakah yang
kira-kira akan kita pilih? Membeli Android padahal HP lama masih sangat
bagus. Akibatnya kita harus mengorbankan untuk tidak membeli netbook
sehingga kita harus pergi ke warnet setiap hari bila ingin mengirim
tugas menulis. Atau kita tidak membeli HP Android dan memilih membeli
netbook demi menunjang pekerjaan kita?
Sekalipun harga suatu barang lebih
murah, namun bila kita tidak membutuhkannya maka dari sisi ekonomi kita
sama saja telah menghambur-hamburkan uang. Sebaliknya, sekalipun
harganya mahal namun bila barang tersebut berpengaruh pada pekerjaan
kita sehari-hari maka dari sisi ekonomi kita tidak menghambur uang. Oleh
sebab itu, bijaklah dalam berbelanja. Tak perlu harus mengikuti setiap
trend bila kita memang tidak terlalu membutuhkannya.
3.Alokasikan dana untuk infak di awal
Mengalokasikan dana infak di awal
akan mengurangi kelupaan kita untuk tidak melakukan infak. Ingatlah
bahwa di setiap harta kita terdapat hak mereka. Itu sebabnya, infak
seharusnya dikeluarkan di awal dan bukan di akhir setelah kita
berbelanja sepuasnya.
4.Jangan membawa banyak uang tunai ketika bepergian terutama berbelanja
Tidak membawa banyak uang tunai
ketika kita berpergian bukan berarti kita pelit atau tidak memiliki
uang. Namun, hal tersebut adalah bentuk untu mengontrol pengeluaran.
Hakl yang sering terjadi adalah kita merasa “kaget” ketika membawa
banyak uang di tangan. Ada kecenderungan untuk menghabiskan semua uang
yang kita pegang saat itu juga. Terlebih bila kita pergi ke suatu tempat
kesukaan kita. Kadang-kadang kita bisa dikuasai oleh sisi emosional
daripada sisi logika dan kita baru sadar ketika uang yang ada di tangan
sudah habis. Misalnya saja, kita adalah penggemar buku. Kita pergi ke
toko buku dengan membawa uang senilai Rp 1.000.000,00. Uang tersebut
tentunya tak hanya untuk membeli buku melainkan untuk membeli hal-hal
lainnya. Bagi kita yang gila buku, kemungkinan menghabiskan uang untuk
membeli buku bukanlah hal yang aneh. Pun dengan hal-hal lainnya.
Mengerikan bukan? Sekalipun buku memang sumber ilmu, namun
pembelanjaannya juga perlu diatur.
5.Jangan membawa semua ATM dan kartu kredit
Membawa semua ATM dan kartu kredit
selain kurang aman juga membuat kita tertarik untuk berbelanja lebih.
Ada baiknya kita menggunakan ATM sesuai kebutuhan. Misalnya, saat kita
ingin berbelanja ke swalayan, sebaiknya kita menggunakan ATM khusus
untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan membawa satu kartu kredit
sebagai cadangan.
ATM, kartu kredit, atau uang tunai?
Ketiga hal tersebut adalah hal
penting yang harus kita bawa ketika berpergian. Uang tunai sebagai
jaga-jaga ketika kita membutuhkannya untuk transaksi tunai. ATM sebagai
sarana untuk memudahkan transaksi kita agar tak perlu membawa terlalu
banyak uang tunai. Kartu kredit, kita anggap saja sebagai cadangan.
6.Jangan berlebihan dalam berbelanja
Sejak dahulu, pola hidup yang
berlebihan memang tidak disarankan. Selain bisa membahayakan diri
sendiri karena mengundang kejahatan, pola hidup yang berlebihan juga
bisa membuat kecemburuan sosial. Di samping itu, pola hidup yang
berlebihan bisa mengubah mindset kita untuk menjadi seorang yang
eksklusif. Dengan demikian, bila suatu ketika kondisi keuangan kita
tidak lagi berlebihan, kita akan malu menjadi orang biasa- biasa saja.
Sama halnya seperti orang yang terbiasa naik mobil, mungkin dia akan
malu untuk naik angkot. Padahal apa salahnya bila harus naik angkot? toh
dua-duanya sama-sama kendaraan yang bisa mengantarkan kita ke tempat
tujuan, benar bukan?
7.Pergi untuk berbelanja sebaiknya ditemani dengan orang yang memiliki karakter berbeda dengan kita
Pasangan atau keluarga kita bisa
dijadikan penasihat dalam berbelanja, terlebih bila kita memiliki
karakter yang berbeda. Misalnya, kita adalah orang yang hemat sedangkan
pasangan kita adalah orang yang boros. Dengan demikian, jangan
terburu-buru marah karena kondisi tersebut sebenarnya menguntungkan.
Satu orang bisa menjadi gas sedangkan yang satunya lagi bisa menjadi
rem. Penasihat dalam berbelanja diperlukan untuk mengantisipasi adanya
hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya: membeli sesuatu yang tidak
perlu dan tidak membeli sesuatu yang dibutuhkan.
8.Jangan meletakkan uang pada dompet yang sama
Meletakkan uang dan kartu-kartu
penting seperti ATM dan kartu kredit s pada dompet atau tempat yang sama
jelas berbahaya. Selain tidak aman, kita juga akan merasa “kaya” dan
memiliki “banyak uang”. Akibatnya, kita menjadi kurang berhati-hati. Ada
baiknya bila kita memecah “harta” tersebut ke dalam beberapa tempat,
misalnya: diletakkan di dompet, a di saku celana atau rok di tas (tapi
bukan di dompet), atau di tampat lainnya.
9.Waspada terhadap hal-hal yang membuat kita tergoda.
Bila kita adalah seorang wanita yang
hobi berbelanja tas, maka sebisa mungkin kita hindari untuk sering
bepergian ke toko tas. Atau bila kita pergi ke Mall, hindari untuk hanya
sekadar mampir ke toko tas. Awalnya mungkin hanya ingin melihat
jenis-jenis tas yang baru, tapi lama-lama akan tergoda.
10.Jangan terlalu sering makan di luar
Siapapun kita, biasakanlah untuk
menyukai makanan rumah daripada makanan yang ada di luar rumah. Makanan
rumah jelas lebih bersih daripada makanan yang ada di luar rumah. Bila
toh makanan yang ada di luar rumah memang bersih, tentu harga yang
ditawarkan akan mahal. Ingat bahwa ada ungkapan yang bunyinya “there is
no free lunch” atau tak ada makan siang gratis di dunia ini. Semua ada
harganya. Ingin murah? Ya harus terima dengan kondisi yang apa adanya
atau tidak bersih. Sebaliknya bila ingin bersih juga harus mau membayar
mahal.
Acara makan di luar, mulai dari
makan siang hingga makan malam akan menyedot pengeluaran kita secara
perlahan-lahan. Coba saja bila setiap makan kita menghabiskan uang Rp
20.000,00. Bila sehari kita makan di luar dua kali, maka dalam sebulan
kita akan menghabiskan uang sebesar Rp 1.200.000,00 hanya untuk makan.
Uang senilai tersebut bila kita belikan emas batangan, kita akan
mendapatkan 2 gram lebih (dengan asumsi harga emas per gram nya Rp
500.000,00). Bagaimana bila kita kalkulasi selama sat tahun? Jangan
heran bahwa ternyata harga makan di luar setara dengan 24 gram lebih
emas (asumsi harga emas dan kebutuhan tetap). Cukup material bukan?
Coba, mulai sekarang, biasakanlah untuk makan di rumah. Banyak
resep-resep instant yang bisa kita tiru bila saat ini kita adalah
orang-orang yang sibuk.
11.Sebisa mungkin hindari berhutang pada pos lain untuk memenuhi pos yang lainnya
Seringkali kita berhutang pada pos
lain untuk memenuhi pos lainnya. Misalnya, kita berhutang pada pos SPP
anak-anak untuk membiayai pos belanja karena kita tertarik dengan sebuah
produk yang harganya di luar kemampuan kita. Sebaiknya kita tidak
melakukan hal tersebut. Disiplinlah dalam mengambil dan mengisi pos
belanja. Itu pula yang membuat kita begitu penting untuk membentuk pos
cadangan di awal. Namun, pos cadangan tak serta merta dipergunakan untuk
hal-hal yang konsumtif. Ada baiknya bila pos cadangan dipergunakan
untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Setelah membaca penjelasan di atas,
manakah yang lebih mudah? Meningkatkan pemasukan atau menekan
pengeluaran? Memang, dibutuhkan tekad yang kuat untuk melakukan kedua
hal tersebut. Meski secara umum meningkatkan pemasukan lebih mudah
daripada menekan pengeluaran. Namun, bila kita membiasakan diri mulai
dari sekarang, kita akan terbiasa. Mulailah terlebih dahulu dari hal-hal
yang kecil, misalnya membawa bekal dan tidak makan di luar, belanjalah
lebih bijak, dan bawalah uang secukupnya.
Referensi:
Ariefiansyah, Miyosi. "Cash Flow Manajemen untuk Awam & Pemula". 2012. Jakarta: Laskar aksara.
Penulis:
Miyosi Ariefiansyah atau @miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya ada di www.rumahmiyosi.com