
Soal:
Benarkah mayit mendapatkan adzab kubur karena tangisan keluarganya?
Jawab:
Itu benar,
mayit mendapatkan adzab kubur karena tangisan keluarganya, karena hal
ini shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam[1]. Namun para
ulama rahimahumullah berbeda pendapat mengenai maksud hadits tersebut.
Sebagian ulama memaknai bahwa yang dimaksud hadits adalah orang kafir.
Sebagian ulama juga memaknai bahwa maksudnya adalah orang yang mewasiatkan kepada keluarganya untuk menangisinya setelah wafat.
Sebagian
ulama juga memaknai bahwa maksudnya adalah seorang yangmengetahui bahwa
keluarganya akan meratapinya setelah wafatnya, namun ia tidak
melarangnya dari perbuatan tersebut semasa hidupnya karena ia memang
ridha untuk diratapi. Dan diamnya ia merupakan pertanya dari
keridhaannya tersebut. Dan keridhaan terhadap perbuatan munkar itu
semisal dengan perbuatan kemungkaran.Inilah tiga tafsiran para ulama
mengenai hadits ini.
Namun
(menurutku) semua tafsiran ini tidak sesuai dengan zahir hadits. Karena
dalam hadits tidak ada makna demikian. Zahir hadits menunjukkan bahwa
setiap mayit diadzab dengan tangan keluarganya, namun bukan adzab berupa
hukuman, karena ia dalam hal ini tidak melakukan suatu dosa sehingga
patut dihukum. Namun adzab yang dirasakan merupakan penderitaan dan
kesedihan hati karena tangisan tersebut. Penderitaan dan kesedihan hati
tidak melazimkan hukuman.
Tidakkah engkau lihat sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang safar:
أنه قطعة من العذاب
“ia adalah sepotong adzab”
Padahal safar bukanlah hukuman dan bukan pula adzab. Namun yang dimaksud adalah kegalauan, kesusahan dan kegelisahan jiwa.
Demikian
juga adzab bagi mayit di kuburnya dalam hal ini termasuk jenis tersebut.
Yaitu, mayit merasakan penderitaan dan kesusahan, walaupun itu bukan
merupakan hukuman atas dosa yang ia lakukan.
Catatan kaki
[1] Yang dimaksud beliau adalah hadits:
إنَّ الميِّتَ يُعذَّبُ في قبرِه ببكاءِ أهلِه عليه
“sesungguhnya mayit diadzab di dalam kuburnya karena tangisan keluarganya kepadanya” (HR. Bukhari – Muslim).