1 hari, wali kelasnya telepon aku dan menasehatiku untuk memantau cara
belajar putriku. Aku menghela nafasku, dan aku memberikan pengertian
kepada gurunya, anakku tidak suka belajar, dia mau menuruti keinginanku
untuk pergi sekolah, kerjain PR, itu sudah cukup bagiku, jangan paksa
dia untuk lakukan lebih lagi!
Akhirnya dia mulai tahu apa yang dia mau kerjakan! Aku pun sudah lega dan mulai percaya dengannya.
Setamat dia dari SMK, dia melanjutkan untuk kuliah di selatan, di waktu
yang bersamaan, suamiku meninggal dunia. Jujur aku tak rela ditinggal
oleh putriku, tetapi aku tahu, jika aku menahannya terus, dia tidak akan
bisa maju!
Tapi putriku tahu, akademik bukan bagiannya. Setengah tahun dia kuliah,
dia pun DO dengan alasan,"Aku gak mau kuliah, habisin duit aja."
Aku tahu, apa yang sudah dilewati, itu cukup untuk pengalamannya.
Akhirnya dia memutuskan untuk keluar negeri bekerja, tetapi karna modal
yang besar dan dia tidak mau menggunakan uangku, dia akhirnya bekerja
part time sampai - sampai tahun baru, dia harus merelakan liburannya
untuk diinfus di rumah sakit.
Dia berhasil mengumpulkan uang dalam waktu 1 tahun dan dia pun akhirnya
berangkat keluar negeri. Bekerja keras di sana, tak sia - sia. Dia
menelpon aku dan berkata kalau ada perusahaan besar mau menerima dia dan
gaji bulannya 60 juta Rupiah! Aku pertama curiga, pekerjaan apa itu,
ternyata sebuah perusahaan permodelan besar yang mau mempekerjakan
dirinya.
Aku rasa, setiap orang memiliki gaya dan kelebihan masing - masing. Aku
bukan menyombongkan putriku pintar cari uang, tetapi aku ingin semua
orangtua di dunia ini tahu, jangan menghakimi anakmu hanya dari
akademiknya.
Bukan karena akademik bagus, itu menjamin masa depan dia juga bagus.
Masyarakat membutuhkan orang pintar dan orang yang tahu bagaimana
menggunakan kelebihannya untuk mencari uang dan bertahan hidup.
Anak - anak, tidak boleh terbatas hanya dari sekolahnya. Dunia
masyarakat yang begitu kejam, perlu orang yang cerdik, kreatif, dan
cekatan untuk dapat bertahan hidup.
Hai para orangtua, jangan paksa anakmu. Biarlah dia meng-explore diri
mereka sendiri, menjadi diri mereka sendiri, dan menjadi profesional di
bidang mereka masing - masing. Dengan begitu, setiap orang akan bahagia
menjalani apa yang dia punya, dan apa yang mau dia lakukan!
