1. Sederhanakan harapanmu
Banyak
orang yang menyesal dan kecewa terhadap pernikahannya karena memiliki harapan
yang terlalu rumit dan tinggi sebelum menikah. Misalnya berharap dapat
pelayanan terbaik dari istri, mulai dari masakan yang enak, rumah yang bersih,
pakaian yang harum dan rapi di lemari. Atau untuk yang perempuan biasanya
berharap semua kebutuhan finansialnya terpenuhi, bisa jalan-jalan terus dengan
suami tersayang, tinggal di rumah yang bagus dengan perabot lengkap, jadi
begitu pasangan tidak memenuhi harapan tersebut langsung deh merasa kecewa
berat dan menyesal menikah.
Coba
bikin harapan yang sederhana, misalnya menikah itu agar bisa menjadi pribadi
yang lebih baik. Jadi fokus harapannya ada pada dalam diri kita sendiri,
bukankah ini lebih sederhana? Kita tak menuntut orang lain mengikuti harapan
kita, tapi diri kita sendiri berupaya melakukan yang terbaik.
2. Siap mental untuk
punya anak
Kekagetan
pasutri yang baru menikah adalah ketika dalam waktu singkat sudah dititipi
momongan, sementara secara mental, finansial dan keilmuan, mereka belum siap.
Akhirnya perasaan stres, depresi, kecewa, dan menyesal mewarnai hari-hari.
Upayakan
sudah siap memiliki anak ketika memutuskan ingin menikah. Jika ternyata belum
diberi anak dalam waktu dekat, syukurilah hal tersebut sebagai perpanjangan
waktu untuk 'pacaran' lebih lama dengan pasangan. Tapi intinya... penting untuk
menyiapkan diri memiliki momongan setelah menikah, jangan menyepelekan dengan
dalih "Aaah... tunda punya anak dulu, gampang kan tinggal pakai KB."
Karena sungguh malang dan kasihan buah hati yang terlahir dari pasutri yang
tidak siap menjadi orangtua.
3. Bersiap mengurangi
aktivitas luar rumah atau pastikan pasangan menyetujui aktivitas kita tersebut
Banyak
yang menganggap setelah menikah hidup berubah jadi terkungkung karena selalu
berdiam diri di dalam rumah dan sulit jalan-jalan hang out bersama teman-teman
atau beraktivitas luar rumah sebagaimana sebelum menikah.
Sebenarnya
hal ini wajar dirasakan terutama oleh wanita yang setelah menikah langsung
dapat momongan sehingga tersita waktu dan perhatiannya untuk mengurusi anak.
Akan tetapi jika keniscayaan ini sudah dipersiapkan sebelum menikah, tidak akan
terlalu kaget apalagi sampai depresi.
Metode
lainnya adalah dengan meminta izin pasangan sejak sebelum menikah, agar
pasangan paham bahwa kita memiliki banyak aktivitas luar rumah, misalnya
mengaji, mengisi kajian, mengajar privat, kursus tahsin, dan lain sebagainya.
Sehingga setelah menikah pun ia akan mau mengerti dan mudah memberi izin keluar
rumah untuk aktivitas tersebut.
4. Menjaga bentuk tubuh, tapi
juga mengikhlaskan diri jika penampilan berubah setelah menikah
Kebahagiaan
dalam rumah tangga biasanya menyebabkan badan membesar. Untuk wanita, ketika
hamil pun badan akan berubah. Banyak yang tak bisa menerima anugerah ini dan
merasa benci dengan bentuk tubuhnya yang melar atau penuh stretch mark. Oleh
sebab itu perlu diantisipasi sejak awal, yakni dengan menjaga asupan makanan,
memperbanyak waktu untuk melatih tubuh/ olahraga, atau mempersiapkan mental
dengan mensyukuri bentuk tubuh yang membesar atau pipi yang makin chubby
sebagai karunia Allah.
5. Belajar mengelola keuangan
