Bercerita tentang seorang siswa muslim Perancis, ia
yang dipaksa gurunya untuk menggambar wajah nabi Muhammad SAW oleh gurunya di
sekolah. Sang guru yang bersikeras dan menolak semua pertanyataan semua
muridnya, akhirnya membuat bimbang semua siswa di kelas.
Namun apa yang dilakukan oleh salah satu murid justru
sangat diluar dugaan, dan dia menuliskan sesuatu yang sangat menyentuh hati.
Hari ini di sekolah, guru meminta kami melukis
wajahmu. Aku suka melukis, tapi aku tidak pernah melihatmu. Lalu aku menutup
kedua mataku.
Dan aku melihat air mata ibu saat membaca kisahmu. Aku
melihat ayah shalat sepanjang malam. Aku melihat kakak tersenyum meski dia baru
mendapat penghinaan di jalan. Aku melihat sahabatku
meminta maaf meski aku yang bersalah.
Aku ingin melukiskan semua gambaran ini. Di sini
orang-orang ingin melihat semuanya, menyaksikan semuanya. Tapi aku menutup
kedua mataku. Dan aku melihatmu datang kepadaku, kepada kami semua, dengan
senyum yang paling sempurna.
Bagaimana mungkin aku bisa melukiskan senyum yang
sempurna? Guru tidak memberiku kesempatan bicara saat aku ingin menjelaskan.
Aku tidak menyalahkannya.
Dia mungkin tidak pernah belajar mencintai seseorang
yang tidak dilihatnya. Tapi aku, aku mencintaimu meski tak pernah melihatmu.
Aku tak begitu pintar melukis tapi aku ingin menulis.
Aku ingin menulis kepadamu Ya Rasulullah. Jika saja
kau bisa kembali hadir pada kami selama beberapa jam, beberapa detik, atau
beberapa saat saja, mungkin dia akan mengerti.
Pelajar itu melukis huruf Muhammad dalam bahasa arab
dibalik kertas. Sang guru tercekat senyumnya tak bisa berkata-kata lagi saat
membacanya di sebuah kursi.
