loading...

Siswa SD yang Viral karena Sepatu ‘Menguap’ Tak Punya KIP


c0ea432b-3ac4-461f-bf3f-6ee2c3615046_169
Juhdi (13) siswa kelas 6 SDN Sindanglaya, Cianjur, Jawa Barat, yang sepatu ‘menguap’nya viral di media sosial terancam pendidikannya karena masalah ekonomi keluarga. Bocah yang bercita-cita jadi tentara ini juga tak punya Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Diceritakan Juhdi, dirinya memang bercita-cita jadi tentara. Karena itu, dia berharap bisa bersekolah hingga ke jenjang yang tinggi. Namun sayangnya, keinginannya itu terancam terkubur karena terkendala biaya. Padahal sebentar lagi Juhdi akan mengikuti ujian kelulusan SD.
Juhdi yang awalnya semangat bercerita soal cita-citanya kemudian tertunduk lesu. “Saya ingin masuk SMPN 1 Cianjur atau kalau nggak bisa ke SMPN 2, cuma semuanya gimana bapak saya saja,” ujarnya lirih saat ditemui detikcom di kediamannya, Sabtu (11/3/2017).
Baca juga: Viral Kisah Sepatu ‘Menguap’ Bocah SD di Cianjur
Ali (33) ayah Juhdi sebelumnya mengungkap jika dia pun memiliki harapan yang sama, ingin menyekolahkan putranya itu setinggi mungkin. Namun dengan kondisi perekonomiannya yang saat ini hanya cukup untuk makan sehari-hari, dia hanya bisa mengusap dada.
“Siapa orang tua yang nggak mau sekolahin anaknya setinggi mungkin, cuma semua kembali ke kemampuan saya. Anak saya ini tidak punya Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk biaya beli buku dan lain-lain saja nunggu uang terkumpul dulu,” tutur Ali.

Ali sehari-hari bekerja sebagai buruh tani di perkebunan sayuran milik tetangganya. Sehari dia mengumpulkan uang Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu. Uang itu ia bagi lagi untuk kebutuhan makan keluarga dan orang tuanya sehari-hari.
Baca juga: Viral Sepatu ‘Menguap’ Bocah Cianjur, Begini Cerita Sang Ayah
Kondisi Juhdi yang tidak memiliki KIP dibenarkan Eddy Kusnadi pengajar di SDN Sindanglaya. Selama bersekolah Juhdi memang tidak ditanggung KIP, meski sekolah memberikan sejumlah keringanan kepada Juhdi.
Siswa SD yang Viral karena Sepatu 'Menguap' Tak Punya KIPFoto: ist
“Kalau melihat latar belakang siswa yang sekolah di SDN Sindanglaya, memang kondisi seperti ini tidak hanya dialami Juhdi. Pihak sekolah akhirnya harus adil terkait keringanan. Juhdi memang sering masuk rangking, selalu masuk 10 besar,” jelasnya.
Eddy berharap, Juhdi bisa melanjutkan sekolah setinggi mungkin bila saja ada dermawan yang tergerak membantu. “Mungkin awalnya sepatu ‘menguap’, dengan sepatu itu Juhdi tetap semangat pergi sekolah meski hanya berjalan kaki. Andaikata ada yang peduli mungkin keinginan Juhdi untuk jadi tentara akan terlaksana,” ujarnya.