
Kisah ini berawal dari satu desa di pinggiran kota, yang mana hiduplah
satu keluarga harmonis. Keluarga kecil yang damai dengan alam pedesaan
yang asri dan masih alami. Sebagaimana alam pedesaan pada umumnya yang
mana beberapa besar dari penduduknya yaitu petani. Hingga saat pagi
hingga siang keadaan desa masih relatif sepi. Para bapak kerja di sawah
sedang ibu ibunya menyiapkan masakan di dapur. Kebiasan untuk para ibu2
yang kalau sedang longgar ngerumpi dengan sesamanya sambil petan dan
membahas apa saja yang lagi hangat. Salah satu dari ibu itu yaitu sebut
saja mr yang mana tabiat dari ibu itu yaitu ngrasani sopo ae, ntah baik
maupun buruk, pasti di koment. Wis pokoknya tidak patut ditiru oleh
siapapun. Pada suatu saat sang ibupun jatuh sakit hingga diharuskan
opname. Berhubung kebiasaannya yang tinggi hati, sombongdll waktu
sakitpun belum ingin berubah. Menurut cerita dari keluarganya dia pengin
mati dengan bantalan uang, Msya ALLAH sebegitu tinggi cita2nya. Hari
berganti hari sakit yang diderita tidak kunjung sembuh, justru tambah
parah. Disuatu hari keluarga mendapati ibu itu seolah olah sedang menata
sesuatu yang di simpan dibawah bantal, padahal seharusnya ibu itu tdak
bisa melakukan karena sakitnya. Pihak keluargapun sadar bahwa kira2 "
wis gak sewe maneh ni ". Masih di rumah sakit, karena banyak tingkah dan
kelalaian keluarga dalam mengawasi, maka jatuhlah ibu itu dari
ranjangnya. Tiga hari kemudian dengan kehendak Yang Kuasa akirnya ibu
tersebut berpulang. Hari menjelang malam ketika waktu pemakaman
berlangsung, dan keanehan keanehan selalu mengiringinya. Waktu dijalan
tidak ada angin tidak hujan kain lurupnya keranda kabur, seolah olah
ndak mau menutupi. Lawong namanya juga wong ndeso rumor pun berkembang,
ki lo oleh olehe wong sing seneng ngrasani tanggane. Apa yang dapat kita
simpulkan dari kisah di atas " jangan suka menggunjingkan orang lain "
karena rahasia Ilahi pasti berlaku pada setiap umat manusia. Monggo di
share