Pernyataan
dan kepastian teori pasti butuh bukti, pengadilan butuh bukti, klaim
tuntutan butuh bukti, keimanan butuh bukti dan tentunya cinta juga butuh
pembuktian
Jika
ada mengakui mencinta tetapi tidak menikahi atau segera menikahi maka
itu semua hanya cinta kasih yang menjelma saja dalam pandangan mata yang
berfatamorgana.
Walaupun
yang diumbar adalah sajak romantis yang mengalahkan merdu kicauan
burung, walaupun sentuhan sayang yang dibelai mengalahkan tetesan embuh
dan walaupun buah tangan yang diberi adalah rangkaian melati bersanggul
jelita. Semuanya tanpa pernikahan adalah semi palsu bahkan tipu daya.
Mengapa?
karena orang yang paling mengetahui hakikat pembuktian cinta mengatakan
bukti cinta adalah menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
لم ير للمتحا بين مثل النكاح
“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan” [HR. Ibnu Majah)
Ulama pakar hati Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata,
وقد اتفق رأي العقلاء من الأطباء وغيرهم في مواضع الأدوية أن شفاء هذا الداء في التقاء الروحينوالتصاق البدنين
“Sungguh
para dokter dan yang lainnya bersepakat dalam pandangan orang-orang
yang berakal mengenai pengobatan,bahwa obat dari penyakit ini
[mabukcinta] adalah bertemunya dua ruh dan menempelnya dua badan [yaitu
menikah]”.[Raudhatul Muhibbin hal. 212)
Pembuktian cinta…
Bukan dengan bunga mawar yang diberikan dengan berlutut
Bukan dengan coklat dalam bingkisan pita
Apalagi pembuktian cinta dengan melepas keperawanan, wal’iyadzu billah
Sekali lagi, pembuktian cinta hanya dengan menikah!.
